Cara Menumbuhkan Kesadaran Bertauhid Pada Anak
Sahabat dunia islam, mengacu pada model
pendidikan Lukman Al Hakim (Q.S. Luqman: 13-18), pondasi pertama yang
ditegakkan adalah tauhid. Iman kepada Allah Swt. Inilah benih yang
wajib ditumbuh suburkan oleh orangtua. Bukankah fitrah keimanan sudah
laten tertanam dalam jiwa anak.
Pendidikan bukanlah sekedar dimana dan
bagaimana anak sekolah. Peran dan fungsi mendidik tetap menjadi
tanggungjawab orangtua. Sekolah merupakan institusi yang (hanya)
dititipi dan diajak bekerja sama oleh orangtua. Menumpahkan tanggung
jawab pendidikan sepenuhnya pada sekolah bukanlah sikap yang tepat.
Mengembangkan fitrah anak tetap menjadi tanggungjawab orangtua – bukan
sekolah.
Oleh karena itu, Sahabat dunia islam,
mendidik anak perlu dibingkai oleh rasa syukur kepada Allah (Q.S.
Luqman: 12). Rasa syukur bahwa kita dianugerahi putra-putri yang pasti
memiliki potensi dan kelebihan. Upaya discovering ability tidak
boleh terhenti oleh sangka buruk yang kita ciptakan sendiri pada anak.
Pendidikan tauhid pun dikembangkan dengan cara pandang bahwa setiap anak
dianugerahi potensi dan keunggulan.
“Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar,” demikian nasehat yang pertama kali
disampaikan Luqman kepada anaknya. Bagaimana upaya menumbuhkan fitrah
keimanan anak?
Ada beberapa cara yang dapat dijalankan dan disimulasi sesuai kondisi lingkungan keluarga
Menumbuhkan Kesadaran Bertauhid Pada Anak
Pertama, Memanfaatkan waktu menjelang tidur
Matikan televisi menjelang waktu anak
tidur. Membaca cerita tentang sifat-sifat Allah, kisah nabi dan rasul,
atau memperdengarkan murotal ayat Al-Quran bisa menjadi pengantar anak
sebelum tidur. Kita memvariasi aktivitas itu menurut kebutuhan dan
situasi di rumah.
Mengapa menjelang tidur? Kedekatan kita
dengan anak yang membuahkan rasa aman dan tenteram sangat efektif
dibangun menjelang tidur. Anak merasa damai. Aman. Ketika positive feeling kita dan anak sudah terjalin, inilah saatnya menanam nilai-nilai ketauhidan.
Kedua, Merenungkan ciptaan Allah SWT
Saya masih teringat momen bersama putra
pertama yang berusia enam tahun ketika duduk memandangi langit malam.
Bintang berserakan. Bulan menjelang purnama. Berbincang ringan dan
sederhana saja. Lalu di tengah obrolan anak saya mendongak ke atas. “Ada
bintang. Ada bulan. Allah dimana?” tanya anak saya. Kami pun lantas
saling bertanya jawab. Saya punya kebiasaan, setiap pertanyaan dari anak
saya jawab dengan pertanyaan balik.
Merenungkan kebesaran Allah dengan
mempelajari ciptaan-Nya bisa menumbuhkan benih-benih tauhid dalam
jiwanya. Membaca alam di lingkungan sekitar, seraya mengaitkannya dengan
Asma Allah, akan menjadi jangkar bagi memori jangka panjang anak.
Ketiga, Mensyukuri nikmat Allah
Tidak perlu rumit memberi contoh
bagaimana mensyukuri nikmat. Saya kerap memanfaatkan panca indera atau
anggota tubuh menjadi bahan simulasi bagi anak-anak. Simulasinya juga
gampang. Cukup dengan pertanyaan sederhana, misalnya mengapa mata kita
menghadap ke depan? Apa yang terjadi seandainya satu mata menghadap ke
belakang satu ke depan? Beragam jawaban yang aneh dan lucu meluncur dari
bibir anak. Perlahan kita memandu cara berpikirnya. Ujungnya adalah
membawa anak mensyukuri nikmat panca indera.
Apa hubungannya dengan menanamkan nilai
tauhid? Dengan mensyukuri setiap nikmat, sesungguhnya kita sedang
menunjukkan sifat Kasih Sayang Allah. Sifat Rahman-Rahim Allah.
Kesadaran iman dibangun oleh pilar, salah satunya, menyadari betapa
sangat sayang Allah kepada kita.
Keempat, Membiasakan menyebut Asma-Nya
Bacaan Basmalah untuk mengawali
setiap pekerjaan baik perlu dibiasakan. Habituasi ini dimulai sejak
dini mengingat hampir setiap aktivitas yang baik selalu ada doa untuk
mengawalinya. Mulai doa sebelum tidur, bangun tidur, masuk kamar mandi
sampai tidur kembali. Untuk itu, anak dilatih dari tahap paling mudah,
membaca basmalah, sampai mengamalkan doa-doa harian.
Tentu bukan sekedar menghafal dan
mengamalkannya. Dialog ringan mengapa saat masuk kamar mandi, memakai
baju, atau keluar rumah kita membaca doa, akan menumbuhkan benih
keimanan. Bahwa kita selalu memerlukan pertolongan dari Allah. Tentunya
dengan berdialog secara terbuka, fair, dan masuk di akal pemahaman anak.
langkah di atas dapat dikembangkan lebih
lanjut. Variasi dan simulasi yang menarik minat anak akan berpengaruh
pada memori jangka panjang. Bukan sekedar menakuti anak dengan dosa dan
siksa neraka tanpa diimbangi pemaparan yang jernih. Kisah Nabi ibrahim
menemukan Tuhan, anjuran mengamati bagaimana unta diciptakan,
gunung-gunung ditinggikan menunjukkan iman dan tauhid bukan semata
dogma. Menanamkan tauhid dan iman perlu mendayagunakan akal, sesuai
dengan usia perkembangan anak.
Sumber : Ummi-online.com






0 komentar:
Posting Komentar