MENGENAL BATERAI
PADA KELISTRIKAN SEPEDA MOTOR
TUGAS MAKALAH
Mata
Kuliah Kelistrikan Sepeda Motor
Program
Studi Teknik Otomotif
Semester
IV
Oleh :
JOKO TRI SARWANTO
NPM : 15315032
KELAS
:TOM K31/15
POLITEKNIK DHARMA PATRIA
KEBUMEN
2017
LEMBAR PENGESAHAN
MENGENAL BATERAI PADA KELISTRIKAN SEPEDA MOTOR
Disusun Oleh :
JOKO TRI SARWANTO
NPM : 15315032
Makalah ini
telah disetujui dan disyahkan untuk melengkapi tugas dari mata kuliah Kelistrikan
Sepeda Motor.
Gombong,
14 Januari 2017
Mengetahui
/ Mengesahkan
Dosen Pembimbing Penyusun
MURTIMAN,
S.Pd, M.M JOKO TRI SARWANTO
NIP. NPM
: 15315006
MOTTO
“Berdo’a,
bersyukur, tetap berusaha dan terus belajar. Bahagiakanlah hatimu dan
manfaatkan hari mu untuk sesuatu yang membuat keluarga dan orang lain
tersenyum”.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan Syukur
saya panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah
sehingga saya dapat mengerjakan membuat makalah dengan lancar. Tugas ini
bertujuan untuk memenuhi penilaian di Mata kuliah Kelistrikan Sepeda Motor
sehingga saya dapat mengikuti Mata Kuliah Kelistrikan Sepeda Motor selanjutnya
dengan tenang dan tanpa beban.
Makalah
ini membahas tentang pengapian baterai, konstruksi baterai, mengetahui gejala
kerusakan dan cara memperbaikinya. Sehingga mahasiswa dapat melakukan perawatan
baterai dengan baik dan benar.
Tentu saja makalah ini menjadi
bermakna karena pembaca.Terima kasih atas apresiainya,dan makal ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu saya senantiasa menerima kritik, saran dan
petunjuk-petunjuk serta dukungan untuk proses pembuatan makalah yang lebih baik
dan benar.
Penyusun
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENEGSAHAN
MOTTO
KATA PENGANTAR
……………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………. 1
1.1 Latar
Belakang ………………………………………………... 1
1.2 Tujuan
Penyusunan …………………………………………… 2
1.3 Rumusan
Masalah …………………………………………….. 2
1.4 Manfaat
Penyusunan ………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………….. 3
2.1 Pengertian Baterai ……………………………………………. 3
2.2 Pengapian Baterai …………………………………………….. 3
2.3 Mencari dan Mengatasi Kerusakan Baterai
…………………... 7
2.4 Pemeriksaan dan Perbaikan Baterai
…………………………... 8
BAB III PENUTUP ………………………………………………………….. 10
3.1 Kesimpulan …………………………………………………… 10
3.2 Saran ………………………………………………………….. 10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Selain dari sumber tegangan langsung, terdapat juga sumber tegangan
alternatif dari sistem kelistrikan
utama. Sistem ini biasanya terdapat pada mesin
yang mempunyai sistem kelistrikan di mana baterai sebagai sumber tegangan sehingga mesin tidak dapat
dihidupkan tanpa baterai. Hampir semua baterai menyediakan arus listrik tegangan rendah
(12 V) untuk sistem pengapian.
Dengan sumber tegangan
baterai akan terhindar kemungkinan terjadi masalah dalam menghidupkan
awal mesin, selama baterai,
rangkaian dan komponen sistem pengapian
lainnya dalam kondisi
baik.
Arus listrik
DC (Direct Current) dihasilkan dari baterai (Accumulator). Baterai tidak dapat menciptakan arus listrik, tetapi dapat
menyimpan arus listrik melalui proses kimia. Pada umumnya baterai yang digunakan pada sepeda motor
ada dua jenis
sesuai dengan kapasitasnya yaitu baterai 6 volt dan baterai
12 volt.
Di dalam baterai terdapat sel-sel yang jumlahnya
tergantung pada kapasitas baterai
itu sendiri, untuk
baterai 6 volt mempunyai tiga
buah sel sedangkan baterai 12 volt mempunyai enam buah sel yang berhubungan secara seri dan untuk setiap sel baterai menghasilkan
tegangan kurang lebih sebesar 2,1 volt. Sementara untuk setiap sel terdiri dari dua buah pelat yaitu pelat positif dan pelat negatif yang terbuat dari timbal atau timah
hitam (Pb). Pelat-pelat tersebut disusun bersebelahan
dan diantara pelat dipasang pemisah (Separator) sejenis
bahan non konduktor dengan jumlah pelat negatif lebih banyak dibandingkan dengan pelat positif untuk setiap sel baterainya.
Dan untuk mengetahui masalah pada sebuah baterai dan cara mengatasinya.
1.2
Tujuan Penyusunan
Kendaraan sepeda
motor sudah tidak asing lagi buat kita , dari orang yang kaya sampai yang
kurang mampupun terkadang punya. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
a. Mahasiswa mampu mengetahui cara mencari dan mengatasi kerusakan baterai
b. Mahasiswa mampu mengetahui cara perawatan sebuah baterai
1.3
Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan baterai ?
b. Bagaimana pengapian menggunakan baterai ?
c. Bagaimana cara mencari dan mengatasi sebuah kerusakan pada baterai ?
d. Bagaimana cara perawatan sebuah baterai ?
1.4
Manfaat Penyusunan
Adapun manfaat penyusunan
makalah, antara lain sebagai berikut :
a. Mahasiswa dapat mengerjakan sendiri masalah-masalah yang terjadi pada
kerusakan baterai
b. Mahasiswa dapat mengerti lebih dalam tentang cara perawatan sebuah
baterai
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Baterai
Baterai sebagai sumber tegangan sehingga mesin tidak dapat
dihidupkan tanpa baterai. Hampir semua baterai menyediakan arus listrik tegangan rendah
(12 V) untuk sistem pengapian.
Dengan sumber tegangan baterai akan terhindar
kemungkinan terjadi masalah dalam menghidupkan
awal mesin, selama baterai,
rangkaian dan komponen sistem pengapian
lainnya dalam kondisi
baik.
Arus listrik DC (Direct Current) dihasilkan dari baterai (Accumulator). Baterai tidak dapat menciptakan arus listrik, tetapi dapat
menyimpan arus listrik melalui proses kimia. Pada umumnya baterai yang digunakan pada sepeda motor
ada dua jenis
sesuai dengan kapasitasnya yaitu baterai 6 volt dan baterai
12 volt.
2.2 Pengapian Baterai
Di dalam baterai terdapat sel-sel yang jumlahnya tergantung pada kapasitas baterai itu sendiri,
untuk baterai 6 volt mempunyai tiga buah sel sedangkan baterai 12 volt mempunyai enam buah sel yang berhubungan
secara seri dan untuk setiap sel baterai menghasilkan tegangan kurang lebih sebesar 2,1 volt. Sementara
untuk setiap sel terdiri dari dua buah
pelat yaitu pelat positif dan pelat negatif
yang terbuat dari timbal atau timah
hitam (Pb). Pelat-pelat tersebut disusun bersebelahan
dan diantara pelat dipasang pemisah (Separator) sejenis
bahan non konduktor dengan jumlah pelat negatif lebih banyak dibandingkan dengan pelat positif untuk setiap sel baterainya.
Pelat-pelat ini direndam dalam cairan elektrolit (H2SO4). Akibat terjadinya reaksi kimia antara pelat baterai dengan cairan elektrolit tersebut akan menghasilkan arus
listrik
DC
(Direct Current). Adapun reaksi kimia yang terjadi
adalah sebagai berikut
:
PbO2 = Timah peroksida PbSO4 =
Sulfat Timah H2SO4 = Cairan
Elektrolit H2O = Air
Jika baterai telah digunakan
dalam jangka waktu tertentu maka arus
listrik yang tersimpan di dalam baterai akan habis, oleh sebab itu diperlukan sistem untuk melakukan
pengisian kembali. Sistem pengisian ini memanfaatkan arus dari kumparan
yang terlebih dahulu disearahkan dengan menggunakan
penyearah
arus
yang
disebut
dengan
Cuprok (Rectifier).
Reaksi yang terjadi
pada saat pengisian baterai adalah sebagai berikut :
Pengaruh Tegangan
Baterai pada Sistem
Pengapian
Pada kehidupan sehari-hari kita sering membuat api yang
digunakan untuk membakar sesuatu, tentunya kita memerlukan sumber api, seperti batu korek api yang digunakan
untuk membakar gas dari dalarn korek saat menyalakan
rokok, kesempurnaan
terbakarnya gas dalam korek sangat tergantung
pada seberapa besar batu korek api dapat
menghasilkan percikan api.
Gambaran sederhana di atas memiliki dasar yang sama dengan
pembakaran di dalam silinder
motor bensin. Baterai
adalah sumber api utama
pada sistem pengapian.
Kekuatan dari baterai dapat
dinyatakan dengan tegangan
(volt) yang dimiliki, artinya kekuatan
baterai sebagai
sumber api tergantung dari besar tegangannya. Lalu,
bagaimana pengaruh tegangan baterai terhadap besarnya bunga api?
Sebagai ilustrasi lebih
jauh
mengenai pengaruh
besarnya tegangan baterai terhadap
sistem pengapian dapat kita amati dari kondisi
tegangan jaringan listrik rumah
dari
PLN. Malam
hari
saat
kita menyalakan beban listrik seperti setrika, kompor listrik,
dan pompa air bersama-sama sering jaringan
listrik rumah jatuh/terputus,
padahal pada siang hari masih mampu hidup. Peristiwa
ini menandakan bahwa tegangan listrik
rumah turun dari nilai semestinya. Pernahkah Anda mengukur tegangan listrik dari PLN saat malam hari, dan
membandingkannya dengan
pengukuran siang hari?
Tegangan tinggi yang terinduksikan
pada koil pengapian tergantung dari tegangan
baterai, oleh karena
itu baterai yang lemah tidak
dapat memproduksi kemagnetan yang kuat. Sedangkan
tegangan tinggi yang dapat
diinduksikan bergantung pada kemagnetan yang terjadi
2.4 Pemeriksaan dan Perbaikan Baterai
a. Periksa kerusakan tempat
baterai
atau
plat
terhadap
adanya
pembentukan sulfat (selubung putih).
Ganti baterai jika sudah rusak atau telah mengalami sulfasi.
b. Periksa tinggi permukaan elektrolit pada tiap sel, apakah masih berada diantara batas bawah (lower level) dan batas atas (upper
level). Jika rendah, tambah
air
suling
agar
tinggi
permukaan
mencapai batas teratas (upper level).
c. Periksa berat jensi (BJ) setiap sel dengan menghisap
cairan
elektrolit ke dalam hydrometer.
Berat jenis:
Muatan penuh
: 1,270 – 1,290 pada suhu
20oC Muatan kosong : di
bawah 1, 260 pada suhu 20oC
Catatan:
1) Berat
jenis akan berubah
sekitar 0,007 per 100C perubahan
suhu. Perhatikanlah suhu sekitar
saat melakukan pengukuran.
2) Jika perbedaan berat jenis
antara sel-sel lebih dari 0,01, isi
ulang (strum) baterai. Jika perbedaanya
terlampau
besar,
ganti baterai.
3) Baterai juga harus diisi kembali apabila berat jenisnya
kurang dari 1,230.
4) Pembacaan tinggi pada permukaan cairan pada hydrometer harus dilakukan secara horisontal.
d. Ukur tegangan
baterai menggunakan multimeter
Standar tegangan (voltage) untuk
baterai bebas perawatan
(free maintanenace):
Bermuatan penuh
: 13,0 – 13,2
V Bermuatan kurang : di bawah
12, 3 V
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa :
a.
Dengan sumber tegangan baterai akan terhindar
kemungkinan terjadi masalah dalam menghidupkan
awal mesin, selama baterai,
rangkaian dan komponen sistem pengapian
lainnya dalam kondisi
baik.
b.
Jika baterai telah digunakan
dalam jangka waktu tertentu maka arus
listrik yang tersimpan di dalam baterai akan habis, oleh sebab itu diperlukan sistem untuk melakukan
pengisian kembali.
c.
Tegangan tinggi yang terinduksikan
pada koil pengapian tergantung dari tegangan
baterai, oleh karena
itu baterai yang lemah tidak
dapat memproduksi kemagnetan yang kuat.
3.2 Saran
Semoga dengtan adanya makalah ini mahasiswa dapat lebih memahami kembali
tentang pengertian baterai, cara mengidentifikasi masalah pada batrai, dan
dapat memperbaiki sendiri tentang kerusakan baterai.
DAFTAR PUSTAKA
Boentarto. 1993. Cara Pemeriksaan Penyetelan dan Perawatan Sepeda
Motor. Yogyakarta: Penerbit Andi
Solihin, Iin dan Mulyadi (2003). Perbaikan Sistem Kelistrikan Otomotif .
Bandung: Armico
Yaswaki Kiyaku
dan DM.
Murdhana. 2003.
Teknik Praktis
Merawat
Sepeda Motor. Bandung: Pustaka Grafika.






0 komentar:
Posting Komentar