PEMBUATAN DAN UJI KELAYAKAN
BRAKE SHOES
TUGAS MAKALAH
Mata Kuliah
Bahan Teknik II
Program
Studi Teknik Otomotif
Semester IV
Dosen
Pembimbing : Bambang Wijayanto, S.T.
Disusun Oleh :
JOKO TRI SARWANTO ( 15315032 )
RAGIL SAPUTRO (15315006 )
KELAS : TOM
K31/15
POLITEKNIK DHARMA PATRIA
KEBUMEN
2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Allah
SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga saya dapat mengerjakan membuat
makalah dengan lancar. Tugas ini bertujuan untuk memenuhi penilaian di Mata
kuliah Bahan Teknik II sehingga saya dapat mengikuti Mata Kuliah Bahan Teknik
II selanjutnya dengan tenang dan tanpa beban.
Makalah ini modifikasi, cara pembuatan, dan pengujian
kelayakan sebuah brake shoes, sehingga mahasiswa dapat lebih inovatif lagi
seperti hasil modifikasi di pembahasan makalah ini.
Tentu saja makalah ini menjadi bermakna karena
pembaca.Terima kasih atas apresiainya,dan makal ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu saya senantiasa menerima kritik, saran dan petunjuk-petunjuk serta
dukungan untuk proses pembuatan makalah yang lebih baik dan benar.
Penyusun
DAFTAR ISI
Cover
Kata Pengantar ................................................................. …………………i
Daftar Isi ............................................................................ …………………ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................. …………………1
1.1
Latar Belakang......................................................................... 1
1.2
Tujuan Penyusunan................................................................... 1
1.3
Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.4
Manfaat Penyusunan................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN.............................................................................. 3
2.1 Modifikasi…………………………………………………….3
2.2 Pembuatan Produk……………………………………………4
2.3 Pengujian Kelayakan…………………………………………6
BAB III PENUTUP....................................................................................... 7
3.1 Kesimpulan……………………………………………………7
3.2 Saran…………………………………………………………..7
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sistem pengereman pada mobil ditemukan
sejak jaman pertama kali mobil dibuat,
jadi penemuan rem umurnya
sama
dengan penemuan mobil karena sistem
pengereman merupakan sistem yang sangat penting
dan vital sekali selama mobil
atau kendaraan bermotor itu ada karena fungsi dari rem yaitu untuk mengurangi
laju kendaraan sampai dengan menghentikan laju kendaraan, jadi
sistem pengereman berbanding terbalik
dengan
kecepatan. Dan
dapat
kami katakan bahwa rem adalah
nyawa untuk
kita
yang berkendaraan.
Dalam
teknologi sistem pengereman
pada kendaraan
bermotor roda 2 dan roda 4 yang sering
kita
temui dan yang paling
banyak adalah sistem pengereman
tromol dan sistem pengereman cakram. Dua-duanya masih dipakai dalam sistem pengereman hingga sekarang ini.
Untuk mobil klasik jenis sedan
kebanyakan menggunakan sistem pengereman
cakram pada roda
depan dan tromol pada roda belakang. Dengan semakin berkembangnya
teknologi mobil untuk jenis sedan- sedan sport untuk keempat rodanya
semuanya menggunakan sistem rem cakram
semua karena kepraktisannya.
Untuk mobil klasik
jenis
minibus tahun 1986 atau yang lebih
tua
kebanyakan menggunakan sistem tromol
karena efisiensi biaya yang mungkin diperhitungkan pada
saat mobil tersebut dibuat. Pada jaman sekarang ada sistem
pengereman yang bernama ABS ( AntiLock Breaking
System ). Ini merupakan
teknologi pengereman dengan bantuan elektronik yang bertujuan untuk menghindari penguncian pada saat pengereman.
1.2
Tujuan
Penyusunan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah :
a. Mahasiswa dapat
mengetahui bahan pembuatan brake shoes.
b. Mahasiswa paham
cara pembuatan brake shoes.
c. Mahasiswa dapat
menguji kelayakan sebuah brake shoes.
1.3
Rumusan Masalah
a. Apa saja bahan
pembuatan brake shoes ?
b. Bagaimana cara
pembuatan brake shoes ?
c. Bagaimana cara
mengujin kelayakan sebuah brake shoes ?
1.4
Manfaat
Penyusunan
Adapun manfaat penyusunan makalah adalah sebagai berikut :
a. Mahasiswa dapat
memahami lebih dalam apa itu brake shoes.
b. Mahasiswa lebih
paham tentang cara pembuatan sampai dengan pengujian sebuah brake shoes.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Modifikasi
Pada umumnya, kampas rem sepeda motor terbuat dari bahan asbestos dan
unsur-unsur tambahan lainnya
seperti SiC, Mn atau
Co.
Berdasarkan
proses pembuatannya, brake shoes(kampas rem) sepeda
motor termasuk pada
“particulate composite”.
Komposit jenis ini bahan penguatnya terdiri atas partikel yang tersebar merata dalam matriks yang berfungsi sebagai pengikat sehingga
menghasilkan bentuk solid yang
baik. Melalui proses penekanan sekaligus
pemanasan pada saat pencetakan (sintering) akan dihasilkan kekuatan, kekerasan serta gaya gesek yang semakin
meningkat.
Pemanasan dilakukan pada temperatur
berkisar antara 130oC –
150oC, yang menyebabkan bahan
tersebut akan
mengalami
perubahan struktur dimana antara partikel satu dengan yang
lain saling melekat serta akan diperoleh bentuk solid yang
baik dan matriks pengikat yang kuat. Proses fabrikasi seperti ini
kemudian mengakibatkan harga jual
kampas rem cukup mahal. Penggunaan asbes dalam
pembuatan kampas rem
tidak ramah
lingkungan karena memiliki dampak
negatif bagi kesehatan yaitu dapat menyebabkan asbestosis/ fibrosis (penebalan
dan luka gores pada paru-paru), kanker
paru-paru dan kanker saluran
pernapasan.
Maka dari itu pemilihan bahan untuk komposisi kampas harus dipilih sebaik mungkin. Pemilihan bahan juga harus
dapat mengantisipasi keadaan basah sehingga rem tetap pakem pada saat dalam keadaan hujan(basah). Berdasarkan keterangan yang telah didapat maka kami berpikir untuk memodifikasi kampas rem
dengan menggunakan
bahan non asbestos yaitu
dengan pemanfaatan serabut kelapa
dan
serbuk kayu sebagai
penguatnya dan resin polyester sebagai matriksnya.
Selain ramah lingkungan, pemanfaatan serabut kelapa
dan
serbuk kayu
dalam pembuatan kampas rem sepeda motor
memiliki kelebihan dalam hal harga
produksinya yang
lebih murah dibandingkan kampas rem berbahan asbestos. Hal
ini berhubungan dengan masalah
pencemaran lingkungan, khususnya yang
diakibatkan serbuk kayu dan sabut kelapa dimana kurang dimanfaatkan. Bahan-
bahan tersebut memang terlihat tidak berguna dan tidak memiliki nilai ekonomi
karena
hanya
bisa menjadi sampah dan merusak
lingkungan, padahal sebenarnya kita
dapat memanfaatkannya sebagai bahan alternatif
pembuatan kampas rem
sepeda motor.
2.2 Pembuatan
Produk
Prosedur-prosedur
pelaksanaan pembuatan kampas rem sepeda motor
dengan penguat
serabut kelapa dan
serbuk kayu adalah sebagai
berikut :
1. Persiapan
alat dan bahan.
a. Bahan
meliputi bahan baku
produk (serbuk kayu, serbuk
serabut kelapa, resin 208b, katalis, vaselin, lem besi, rem sepeda motor
bekas yang
sisa
kampasnya telah dibersihkan) dan bahan cetakan (plat baja, timbangan
badan, ulir
baja, mur dan
baut) serta katoda las.
b. Peralatan
meliputi alat mekanik (gergaji besi, palu, gerinda, mesin drill, dll), perangkat
las
busur listrik.
2. Pembuatan
cetakan.
Cetakan terdiri dari
alat penekan dan cetakan produk. Alat penekan
didesain dengan bentuk seperti alat
penekan tambal ban
yang bocor. Hanya saja, untuk ujung
penekan dari alat penekan ini (matapenekan),
digunakan rem sepeda motor bekas yang tidak berkampas. Cetakan produk
dibuat dari plat besi
agar cukup kuat
menerima pembebanan
dari alat
penekan. Dalam desain cetakan
produk kampas rem, plat
besi dibentuk mengikuti bentuk lengkungan kampas rem. Sehingga nantinya
pas dengan
ujung penekannya yaitu
rem
sepeda motor bekas yang tidak
berkampas.
Prinsip kerjanya adalah bahan yang
akan dicetak
diberi tekanan
yang besarnya
tertentu dengan tujuan memperoleh persebaran partikel
penguat dalam
matriks yang lebih uniform sehingga didapatkan padatan kampas rem yang
baik. Selain itu untuk
menjaga agar kualitas bahan dari
produk yang satu dengan yang lain sama maka penekanan harus sama
besar.


Gambar cetakan produk kampas
rem
3. Pencampuran bahan.
Serbuk kayu dan serbuk serabut kelapa
dihaluskan (diselep) dan
disaring dengan saringan
50 mesh kemudian keduanya dicampur
dengan perbandingan 40 : 60. (Serbuk kayu = 40 dan serbuk serabut kelapa = 60).
Resin 208b (tak jenuh) dituangkan ke dalam gelas ukur dan dituang ke campuran serbuk kayu dan serabut kelapa
dan
diaduk hingga persebaran partikel merata. Fraksi volume campuran serbuk kayu dan serbuk serabut kelapa
dalam resin adalah 40% atau dengan perbandingan 40 : 60. (campuran serbuk kayu dan serabut kelapa = 40, resin = 60). Kemudian dituangkan katalis secukupnya, diaduk hinggá katalis menyebar merata, dan
diaduk terus sampai dituang ke cetakan.
4. Pencetakan
Proses hasil dari
pencampuran kemudian dituang secara merata
ke dalam cetakan produk yang
sebelumnya permukaan bagian dalamnya telah
diolesi vaselinesecukupnya, kemudian sesegera
mungkin
diberi penekanan
dengan alat penekan. Setelah itu bahan didiamkan selama beberapa waktu dengan maksud memberikan waktu bagi katalis untuk bereaksi dengan
bahan. Lama waktu yang dibutuhkan tergantung dari banyaknya katalis yang
ditambahkan pada bahan.
Semakin
banyak katalis dalam
bahan semakin
cepat reaksi terjadi sehingga semakin cepat
bahan memadat.
5. Pengeluaran produk dari cetakan.
Kampas rem kemudian dilem dengan menggunakan lem besi dan dilekatkan dengan rem yang tidak berkampas yang
telah dipersiapkan
sebelumnya.
Setelah dilekatkan,
kampas rem dirapikan ketebalannya hingga
sekiranya muat dengan ruang rem
pada
sepeda
motor.
Dalam proses ini dapat
digunakan gerinda.
2.3 Pengujian
Kelayakan
Untuk memenuhi kelayakan penggunaan produk kampas rem ini,
sebelumnya spesimen-spesimen kampas rem telah mengalami berbagai pengujian
untuk mengetahui sifat mekanik dan kinerjanya sehingga dapat dibandingkan kualitasnya dengan kampas
rem berbahan asbestos. Setiap pengujian
dilakukan sebanyak tiga kali demi kepentingan validitas data. Pengujian-pengujian yang dimaksud meliputi :
1. Pengujian
tarik
Pengujian tarik mengacu pada
standarisasi ASTM D 638M-84 (Annual Book of ASTM Standart, 1986). Melalui uji tarik dapat diketahui
nilai
tensile strenght
dari bahan uji.
2.
Pengujian kekerasan
Pada pengujian kekerasan spesimen kampasrem ini digunakan
pengujian
kekerasan
vickers.
Karena pada pengujian
kekerasan
vickers
dapat diukur kekerasan bahan mulai dari yang sangat
lunak (5 HV) sampai dengan yang amat keras (1500
HV). Prinsip pengujian kekerasan vickers
adalah menekan spesimen dengan indentor (intan yang berbentuk piramid
dengan sudut
puncak antara dua sisi yang berhadapan adalah 136o) pada
permukaannya sehingga timbul
tapak tekan.
3.
Pengujian abrasivitas
Pengujian abrasi dilakukan untuk memperoleh besarnya ketahanan
spesimen terhadap penggesekan. Spesimen uji (kampas rem) ditekan pada gerinda
(bergerak memutar searah
dengan jarum jam dan
kecepatan konstan) dengan tekanan yang
konstan. Terjadinya pergeseran pada
permukaan spesimen uji dengan gerinda, mengakibatkan terjadinya
pemakanan pada spesimen tersebut. Setelah itu dihitung besarnya material
yang hilang pada spesimen tersebut
berdasarkan
fungsi
waktu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Pemanfaatan serabut kelapa dan serbuk kayu dalam pembuatan kampas
rem
sepeda motor lebih ramah lingkungan dan memiliki kelebihan dalam
hal
harga produksinya yang lebih murah dibandingkan kampas rem
berbahan asbestos.
b. Modifikasi dilengkapi dengan
uji kelayakan, yaitu
uji tarik, uji kekerasan
dan uji abrasivitas,
sehingga kita dapat mengetahui layak atau tidaknya sebuah brake shoes
3.2 Saran
a. Semoga seluruh
mahasiswa dapat mengetahui kegunaan bahan bahan disekitar kita supaya lebih
bermanfaat.
b. Sebaiknya
mahasiswa lebih aktif lagi dalam pengembangan keOtomotifan
DAFTAR PUSTAKA
http://docsshare04.docshare.tips/files/22751/227513329.pdf
( senin, 29 Mai 2017, pukul 09.00 WIB ).







