Personal blog yang berhubungan dengan ilmu dan keilmuan

Rabu, 31 Januari 2018

Belajar

PEMBUATAN DAN UJI KELAYAKAN
BRAKE SHOES

TUGAS MAKALAH
Mata Kuliah Bahan Teknik II
Program Studi Teknik Otomotif
Semester IV
Dosen Pembimbing : Bambang Wijayanto, S.T.


Disusun Oleh :
JOKO TRI SARWANTO ( 15315032 )
RAGIL SAPUTRO (15315006 )
KELAS : TOM K31/15


Hasil gambar untuk POLITEKNIK DHARMA PATRIA


POLITEKNIK DHARMA PATRIA
KEBUMEN
2017



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga saya dapat mengerjakan membuat makalah dengan lancar. Tugas ini bertujuan untuk memenuhi penilaian di Mata kuliah Bahan Teknik II sehingga saya dapat mengikuti Mata Kuliah Bahan Teknik II selanjutnya dengan tenang dan tanpa beban.
Makalah ini modifikasi, cara pembuatan, dan pengujian kelayakan sebuah brake shoes, sehingga mahasiswa dapat lebih inovatif lagi seperti hasil modifikasi di pembahasan makalah ini.
Tentu saja makalah ini menjadi bermakna karena pembaca.Terima kasih atas apresiainya,dan makal ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saya senantiasa menerima kritik, saran dan petunjuk-petunjuk serta dukungan untuk proses pembuatan makalah yang lebih baik dan benar.
                                                                                                           
Penyusun










DAFTAR ISI

Cover
Kata Pengantar ................................................................. …………………i
Daftar Isi ............................................................................ …………………ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................. …………………1
1.1              Latar Belakang......................................................................... 1
1.2              Tujuan Penyusunan................................................................... 1
1.3              Rumusan Masalah..................................................................... 2
1.4              Manfaat Penyusunan................................................................ 2
BAB II  PEMBAHASAN.............................................................................. 3
            2.1       Modifikasi…………………………………………………….3
            2.2       Pembuatan Produk……………………………………………4
            2.3       Pengujian Kelayakan…………………………………………6
BAB III PENUTUP....................................................................................... 7
            3.1       Kesimpulan……………………………………………………7
            3.2       Saran…………………………………………………………..7
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...8    













BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Sistem pengereman pada mobil ditemukan sejak jaman pertama kali mobil dibuat, jadi penemuan rem umurnya sama dengan penemuan mobil karena sistem pengereman merupakan sistem yang sangat penting dan vital sekali selama mobil atau kendaraan bermotor itu ada karena fungsi dari rem yaitu untuk mengurangi laju kendaraan sampai dengan menghentikan laju kendaraan, jadi sistem pengereman  berbanding  terbalik  dengan  kecepatan.  Dan  dapat  kami  katakan bahwa rem adalah nyawa untuk kita yang berkendaraan.
Dalam teknologi sistem pengereman pada kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4 yang sering kita temui dan yang paling banyak adalah sistem pengereman tromol dan sistem pengereman cakram. Dua-duanya masih dipakai dalam sistem pengereman hingga sekarang ini.  Untuk  mobil klasik jenis sedan  kebanyakan menggunakan sistem pengereman cakram pada roda depan dan tromol pada roda belakang. Dengan semakin berkembangnya teknologi mobil untuk jenis sedan- sedan sport untuk keempat rodanya semuanya menggunakan sistem rem cakram semua karena kepraktisannya.
Untuk mobi klasik   jenis   minibus tahun   1986   atau   yan lebih   tua kebanyakan menggunakan sistem tromol karena efisiensi biaya yang mungkin diperhitungkan pada saat mobil tersebut dibuat. Pada jaman sekarang ada sistem pengereman yang bernama ABS ( AntiLock Breaking System ). Ini merupakan teknologi pengereman dengan bantuan elektronik yang bertujuan untuk menghindari penguncian pada saat pengereman.

1.2              Tujuan Penyusunan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah :
a.       Mahasiswa dapat mengetahui bahan pembuatan brake shoes.
b.      Mahasiswa paham cara pembuatan brake shoes.
c.       Mahasiswa dapat menguji kelayakan sebuah brake shoes.

1.3              Rumusan Masalah
a.       Apa saja bahan pembuatan brake shoes ?
b.      Bagaimana cara pembuatan brake shoes ?
c.       Bagaimana cara mengujin kelayakan sebuah brake shoes ?

1.4              Manfaat Penyusunan
Adapun manfaat penyusunan makalah adalah sebagai berikut :
a.       Mahasiswa dapat memahami lebih dalam apa itu brake shoes.
b.      Mahasiswa lebih paham tentang cara pembuatan sampai dengan pengujian sebuah brake shoes.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Modifikasi

Pada umumnya, kampas rem sepeda motor terbuat dari bahan asbestos dan unsur-unsur  tambahan  lainnya  seperti  SiC,  Mn  atau  Co.  Berdasarkan  proses pembuatannya brak shoes(kampas   rem)   sepeda   motor   termasuk   pada particulate composite. Komposit jenis ini bahan penguatnya terdiri atas partikel yang tersebar merata dalam matriks yang berfungsi sebagai pengikat sehingga menghasilkan bentuk solid yang baik. Melalui proses penekanan sekaligus pemanasan pada saat pencetakan (sintering) akan dihasilkan kekuatan, kekerasan serta gaya gesek yang semakin meningkat.
Pemanasan  dilakukapada temperatur  berkisar  antara 130oC  –  150oC, yang menyebabkan bahan tersebut akan mengalami perubahan struktur dimana antara partikel satu dengan yang lain saling melekat serta akan diperoleh bentuk solid yang baik dan matriks pengikat yang kuat. Proses fabrikasi seperti ini kemudian mengakibatkan harga jual kampas rem cukup mahal. Penggunaan asbes dalam pembuatan kampas rem tidak ramah lingkungan karena memiliki dampak negatif bagi kesehatan yaitu dapat menyebabkan asbestosis/ fibrosis (penebalan dan luka gores pada paru-paru), kanker paru-paru dan kanker saluran pernapasan.
Maka dari itu pemilihan bahan untuk komposisi kampas harus dipilih sebaik mungkin. Pemilihan bahan juga harus dapat mengantisipasi keadaan basah sehingga rem tetap pakem pada saat dalam keadaan hujan(basah). Berdasarkan keterangan yang telah didapat maka kami berpikir untuk memodifikasi kampas rem dengan menggunakan bahan non asbestos yaitu dengan pemanfaatan serabut kelapa  dan   serbuk  kay sebagai   penguatny dan   resin   polyester   sebagai matriksnya.
Selain ramah lingkungan, pemanfaatan serabut kelapa dan serbuk kayu dalam pembuatan kampas rem sepeda motor memiliki kelebihan dalam hal harga produksinya yang lebih murah dibandingkan kampas rem berbahan asbestos. Hal ini berhubungan dengan masalah pencemaran lingkungan, khususnya yang diakibatkan serbuk kayu dan sabut kelapa dimana kurang dimanfaatkan. Bahan- bahan tersebut memang terlihat tidak berguna dan tidak memiliki nilai ekonomi karena hanya bisa menjadi sampah dan merusak lingkungan, padahal sebenarnya kita dapat memanfaatkannya sebagai bahan alternatif pembuatan kampas rem sepeda motor.

2.2     Pembuatan Produk

Prosedur-prosedur pelaksanaan pembuatan kampas rem sepeda motor dengan penguat serabut kelapa dan serbuk kayu adalah sebagai berikut :
1. Persiapan alat dan bahan.

a.  Bahan  meliputi  bahan  baku  produk  (serbuk  kayu,  serbuk  serabut kelapa, resin 208b, katalis, vaselin, lem besi, rem sepeda motor bekas yang sisa kampasnya telah dibersihkan) dan bahan cetakan (plat baja, timbangan badan, ulir baja, mur dan baut) serta katoda las.
b. Peralatan meliputi alat mekanik (gergaji besi, palu, gerinda, mesin drill, dll), perangkat las busur listrik.

                   2. Pembuatan cetakan.

Cetakan terdiri dari alat penekan dan cetakan produk. Alat penekan didesain  dengan  bentuk  seperti  alat  penekan  tambal  ban  yang  bocor. Hanya saja, untuk ujung penekan dari alat penekan ini (matapenekan), digunakan rem sepeda motor bekas yang tidak berkampas. Cetakan produk dibuat  dari  plat  besi  agar cukup  kuat  menerima pembebanan  dari  alat penekan. Dalam desain cetakan produk kampas rem, plat besi dibentuk mengikuti bentuk lengkungan kampas rem. Sehingga nantinya pas dengan ujung penekannya yaitu rem sepeda motor bekas yang tidak berkampas.
Prinsip kerjanya adalah bahan yang akan dicetak diberi tekanan yang besarnya tertentu dengan tujuan memperoleh persebaran partikel penguat dalam matriks yang lebih uniform sehingga didapatkan padatan kampas rem yang baik. Selain itu untuk menjaga agar kualitas bahan dari produk yang satu dengan yang lain sama maka penekanan harus sama
besar.          
Gambar cetakan produk kampas rem




                   3. Pencampuran bahan.

Serbuk kayu dan serbuk serabut kelapa dihaluskan (diselep) dan disaring dengan saringan 50 mesh kemudian keduanya dicampur dengan perbandingan 40 : 60. (Serbuk kayu = 40 dan serbuk serabut kelapa = 60).
Resin 208b (tak jenuh) dituangkan ke dalam gelas ukur dan dituang ke campuran serbuk kayu dan serabut kelapa dan diaduk hingga persebaran partikel merata. Fraksi volume campuran serbuk kayu dan serbuk serabut kelapa dalam resin adalah 40% atau dengan perbandingan 40 : 60. (campuran serbuk kayu dan serabut kelapa = 40, resin = 60). Kemudian dituangkan katalis secukupnya, diaduk hinggá katalis menyebar merata, dan diaduk terus sampai dituang ke cetakan.

                   4. Pencetakan

Proses hasil dari pencampuran kemudian dituang secara merata ke dalam cetakan produk yang sebelumnya permukaan bagian dalamnya telah diolesi vaselinesecukupnya, kemudian sesegera mungkin diberi penekanan dengan alat penekan. Setelah itu bahan didiamkan selama beberapa waktu dengan maksud memberikan waktu bagi katalis untuk bereaksi dengan bahan. Lama waktu yang dibutuhkan tergantung dari banyaknya katalis yang ditambahkan pada bahan. Semakin banyak katalis dalam bahan semakin cepat reaksi terjadi sehingga semakin cepat bahan memadat.

                   5. Pengeluaran produk dari cetakan.

Kampas rem kemudian dilem dengan menggunakan lem besi dan dilekatkan dengan rem yang tidak berkampas yang telah dipersiapkan sebelumnya.  Setelah  dilekatkan,  kampas  rem  dirapikan  ketebalannya hingga  sekiranya  muat  dengan  ruanrem  pada  sepeda  motor.  Dalam proses ini dapat digunakan gerinda.

2.3     Pengujian Kelayakan


Untuk memenuhi kelayakan penggunaan produk kampas rem ini, sebelumnya spesimen-spesimen kampas rem telah mengalami berbagai pengujian untuk mengetahui sifat mekanik dan kinerjanya sehingga dapat dibandingkan kualitasnya dengan kampas rem berbahan asbestos. Setiap pengujian dilakukan sebanyak tiga kali demi kepentingan validitas data. Pengujian-pengujiayang dimaksud meliputi :
1. Pengujian tarik

Pengujian tarik mengacu pada standarisasi ASTM D 638M-84 (Annual Book of ASTM Standart, 1986). Melalui uji tarik dapat diketahui nilai tensile strenght dari bahan uji.

2. Pengujian kekerasan

Pada pengujian kekerasan spesimen kampasrem ini digunakan pengujian  kekerasan  vickers.  Karena  pada  pengujian  kekerasan  vickers dapat diukur kekerasan bahan  mulai dari yang sangat  lunak (5 HV) sampai dengan yang amat keras (1500 HV). Prinsip pengujian kekerasan vickers adalah menekan spesimen dengan indentor  (intan yang berbentuk piramid
dengan sudut puncak antara dua sisi yang berhadapan adalah 136o) pada

permukaannya sehingga timbul tapak tekan.


3. Pengujian abrasivitas

Pengujian abrasi dilakukan untuk memperoleh besarnya ketahanan spesimen terhadap penggesekan. Spesimen uji (kampas rem) ditekan pada gerinda  (bergerak  memutar  searah  dengan  jarum  jam  dan  kecepatan konstan) dengan tekanan yang konstan. Terjadinya pergeseran pada permukaan spesimen uji dengan gerinda, mengakibatkan terjadinya pemakanan pada spesimen tersebut. Setelah itu dihitung besarnya material yang hilang pada spesimen tersebut berdasarkan fungsi waktu.









BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
a.         Pemanfaatan serabut kelapa dan serbuk kayu dalam pembuatan kampas rem sepeda motor lebih ramah lingkungan dan memiliki kelebihan dalam hal harga produksinya yang lebih murah dibandingkan kampas rem berbahan asbestos.
b.         Modifikasi dilengkapi dengan uji kelayakan, yaitu uji tarik, uji kekerasan dan uji abrasivitas, sehingga kita dapat mengetahui layak atau tidaknya sebuah brake shoes

3.2       Saran
a.         Semoga seluruh mahasiswa dapat mengetahui kegunaan bahan bahan disekitar kita supaya lebih bermanfaat.
b.         Sebaiknya mahasiswa lebih aktif lagi dalam pengembangan keOtomotifan













DAFTAR PUSTAKA

http://docsshare04.docshare.tips/files/22751/227513329.pdf  ( senin, 29 Mai 2017, pukul 09.00 WIB ).
Share:

Translate

anda pengunjung ke

Recent Posts

Theme Support

Pages