Berpikir Ala Entrepreneur
Ahmad Djauhar.
Keluh kesah di kalangan dunia usaha maupun masyarakat umum akhir-akhir ini terdengar kian santer.
Terlebih di media sosial. Pembicaraan di antara mereka menimbulkan perasaan miris,
apakah tahun ini bisa kita lalui dengan save and sound. Betapa tidak.
Begitu banyak praktisi dunia usaha nasional mengeluhkan buruknya
kinerja usaha mereka selama Q1 dan Q2, sehingga semester pertama tahun ini
rapor mereka umumnya memerah.
Terlebih di media sosial. Pembicaraan di antara mereka menimbulkan perasaan miris,
apakah tahun ini bisa kita lalui dengan save and sound. Betapa tidak.
Begitu banyak praktisi dunia usaha nasional mengeluhkan buruknya
kinerja usaha mereka selama Q1 dan Q2, sehingga semester pertama tahun ini
rapor mereka umumnya memerah.
Pengamatan di media sosial tadi, karena relatif lebih mudah dipantau,
menunjukkan tidak sedikit di antara para lebayer alias mereka yang suka bersikap lebay,
tidak sungkan untuk melebih-lebihkan bahwa saat ini harga-harga kebutuhan masyarakat
meroket menghadapi Lebaran yang tinggal sepenggal bulan lagi.
Meskipun kenyataan di lapangan belum tentu sedemikian horrible.
menunjukkan tidak sedikit di antara para lebayer alias mereka yang suka bersikap lebay,
tidak sungkan untuk melebih-lebihkan bahwa saat ini harga-harga kebutuhan masyarakat
meroket menghadapi Lebaran yang tinggal sepenggal bulan lagi.
Meskipun kenyataan di lapangan belum tentu sedemikian horrible.
Bagi mereka yang berpikir optimistis, suasana saat ini—yang sebenarnya
memang agak menciutkan hati, antara lain ditandai dengan melemahnya
nilai tukar rupiah hingga 13.400-an per dolar AS—dianggap sebagai
sebuah ancang-ancang mundur untuk melompat jauh ke depan.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa harga-harga sebagian
komoditas kebutuhan sehari-hari justru turun. Karena itu, dalam semester kedua ini,
demikian ungkap para optimister, akan menjadi ajang pembuktian
bahwa perekonomian nasional tidaklah seburuk yang dipersangkakan oleh para lebayer tadi.
memang agak menciutkan hati, antara lain ditandai dengan melemahnya
nilai tukar rupiah hingga 13.400-an per dolar AS—dianggap sebagai
sebuah ancang-ancang mundur untuk melompat jauh ke depan.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa harga-harga sebagian
komoditas kebutuhan sehari-hari justru turun. Karena itu, dalam semester kedua ini,
demikian ungkap para optimister, akan menjadi ajang pembuktian
bahwa perekonomian nasional tidaklah seburuk yang dipersangkakan oleh para lebayer tadi.
Lain lagi yang diungkapkan oleh para pengusaha ‘berdarah’ entrepreneur sejati.
Mereka nyaris tidak begitu terpengaruh dengan apa yang terjadi di lingkungannya.
Bagi mereka, suasana bagaimana pun senantiasa dianggap sebagai peluang,
meskipun situasi di sekelilingnya sedang gonjang-ganjing sekalipun.
Apatah lagi bila lingkungan usaha sedang kondusif, maka berkibarlah mereka ini.
Mereka nyaris tidak begitu terpengaruh dengan apa yang terjadi di lingkungannya.
Bagi mereka, suasana bagaimana pun senantiasa dianggap sebagai peluang,
meskipun situasi di sekelilingnya sedang gonjang-ganjing sekalipun.
Apatah lagi bila lingkungan usaha sedang kondusif, maka berkibarlah mereka ini.
Tidak percaya? Mari kita lihat kiprah saudara-saudara kita di sejumlah daerah
yang kini kian getol meningkatkan volume ekspor komoditas yang mereka garap.
Sulawesi Utara pada April lalu, misalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat,
justru mengalami peningkatan nilai ekspor 17,66% dibandingkan dengan bulan sebelumnya,
dari US$85,60 juta menjadi US$100,72 juta.
yang kini kian getol meningkatkan volume ekspor komoditas yang mereka garap.
Sulawesi Utara pada April lalu, misalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat,
justru mengalami peningkatan nilai ekspor 17,66% dibandingkan dengan bulan sebelumnya,
dari US$85,60 juta menjadi US$100,72 juta.
Nilai ekspor melalui Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, menurut catatan BPS setempat,
juga menorehkan peningkatan signifikan. Total ekspor Provinsi Bengkulu
pada Maret 2015 lalu mencapai US$18,03 juta,
merupakan kenaikan 54,46% dari periode sebelumnya.
juga menorehkan peningkatan signifikan. Total ekspor Provinsi Bengkulu
pada Maret 2015 lalu mencapai US$18,03 juta,
merupakan kenaikan 54,46% dari periode sebelumnya.
Dengan kedua contoh tersebut, di saat sebagian praktisi dunia usaha sedang menundukkan kepala,
sebagian lain justru bersorak-sorai—bahkan berharap krisis yang terjadi dapat lebih lama..
Karena, dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
—khususnya dolar AS—yang melemah seperti sekarang,
hal itu berarti berkah bagi sebagian pengusaha,
misalnya petani kopra, cengkeh, dan sawit.
Juga mereka yang mengekspor hasil kerajinan.
Atau produsen komoditas olahan untuk tujuan ekspor yang menggunakan
kandungan lokal relatif tinggi.
sebagian lain justru bersorak-sorai—bahkan berharap krisis yang terjadi dapat lebih lama..
Karena, dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
—khususnya dolar AS—yang melemah seperti sekarang,
hal itu berarti berkah bagi sebagian pengusaha,
misalnya petani kopra, cengkeh, dan sawit.
Juga mereka yang mengekspor hasil kerajinan.
Atau produsen komoditas olahan untuk tujuan ekspor yang menggunakan
kandungan lokal relatif tinggi.
Karena, dengan volume penjualan yang sama sekalipun,
dia memperoleh rupiah lebih banyak. Hal itu tentunya meningkatkan surplus usaha,
sehingga dengan sendirinya meningkatkan daya beli yang bersangkutan.
Apalagi jika mampu menggenjot volume ekspor, maka rupiah yang digaruk pun semakin menumpuk.
dia memperoleh rupiah lebih banyak. Hal itu tentunya meningkatkan surplus usaha,
sehingga dengan sendirinya meningkatkan daya beli yang bersangkutan.
Apalagi jika mampu menggenjot volume ekspor, maka rupiah yang digaruk pun semakin menumpuk.
Saya teringat ketika krisis multidimensi melanda negeri ini pada dekade 1990-an,
yang sempat menjeblokkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh angka 16.000-an.
Sementara orang-orang di Jakarta dan sejumlah kota besar
dicekam ketakutan karena inflasi yang menggunung, para kerabat di kampung—di Jepara,
Bali, Gorontalo, Sulut—malah ramai-ramai memborong
sepeda motor, kulkas, dan peralatan elektronik lainnya secara kolektif,
karena rezeki nomplok yang mereka terima dari membengkaknya
nilai hasil ekspor itu dalam denominasi rupiah.
yang sempat menjeblokkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh angka 16.000-an.
Sementara orang-orang di Jakarta dan sejumlah kota besar
dicekam ketakutan karena inflasi yang menggunung, para kerabat di kampung—di Jepara,
Bali, Gorontalo, Sulut—malah ramai-ramai memborong
sepeda motor, kulkas, dan peralatan elektronik lainnya secara kolektif,
karena rezeki nomplok yang mereka terima dari membengkaknya
nilai hasil ekspor itu dalam denominasi rupiah.
Bagaimana halnya dengan korporasi besar?
Sepanjang dikelola dengan prinsip entrepreneurship, korporasi besar tentunya
akan lebih cerdas membaca situasi, sehingga mampu mengantisipasi
kemungkinan terburuk sekalipun. Karena itu, buanglah jauh-jauh anggapan
bahwa sebuah usaha konglomerasi merupakan bentuk keserakahan usaha (greedy business).
Sepanjang dikelola dengan prinsip entrepreneurship, korporasi besar tentunya
akan lebih cerdas membaca situasi, sehingga mampu mengantisipasi
kemungkinan terburuk sekalipun. Karena itu, buanglah jauh-jauh anggapan
bahwa sebuah usaha konglomerasi merupakan bentuk keserakahan usaha (greedy business).
Usaha konglomerasi tidaklah perlu dimusuhi, karena dengan ukurannya yang begitu meraksasa,
tentu saja lebih banyak menyerap tenaga kerja, baik yang direct maupun indirect.
Pajak yang disetor ke negara pun—kalau mereka jujur dan well governed—tentu tidak sedikit.
Belum lagi biaya promosi yang dikeluarkannya, sehingga dapat ‘menghidupi’ sejumlah media.
tentu saja lebih banyak menyerap tenaga kerja, baik yang direct maupun indirect.
Pajak yang disetor ke negara pun—kalau mereka jujur dan well governed—tentu tidak sedikit.
Belum lagi biaya promosi yang dikeluarkannya, sehingga dapat ‘menghidupi’ sejumlah media.
Mereka, para konglomerat tadi, jauh-jauh hari tentu sudah memperhitungkan
bisnis apa saja yang harus masuk dalam portofolio usaha kelompok bisnis itu.
Mereka sudah mengukur kemampuan jika bisnis yang dilakoninya hanya satu atau dua jenis,
tentu akan mengalami ketimpangan apabila krisis sedang mendera jenis usaha tersebut.
bisnis apa saja yang harus masuk dalam portofolio usaha kelompok bisnis itu.
Mereka sudah mengukur kemampuan jika bisnis yang dilakoninya hanya satu atau dua jenis,
tentu akan mengalami ketimpangan apabila krisis sedang mendera jenis usaha tersebut.
Lain halnya apabila pengelola kelompok usaha tadi melakukan program diversifikasi usaha,
maka ketika komoditas tertentu sedang berkinerja buruk, komoditas lainnya yang akan menolong,
sehingga kalaupun terjadi kerugian usaha bagi kelompok tersebut tidaklah terlalu menyakitkan.
maka ketika komoditas tertentu sedang berkinerja buruk, komoditas lainnya yang akan menolong,
sehingga kalaupun terjadi kerugian usaha bagi kelompok tersebut tidaklah terlalu menyakitkan.
Lihat saja kinerja sejumlah usaha konglomerasi nasional,
yang rata-rata memang mencatat penurunan di sektor industri manufaktur selama Q1.
Namun, karena memiliki berbagai subsektor bisnis bernilai cukup signifikan,
penurunan yang terjadi di subsektor lain pun terkompensasi, sehingga kerugian yang terjadi juga masih manageable.
yang rata-rata memang mencatat penurunan di sektor industri manufaktur selama Q1.
Namun, karena memiliki berbagai subsektor bisnis bernilai cukup signifikan,
penurunan yang terjadi di subsektor lain pun terkompensasi, sehingga kerugian yang terjadi juga masih manageable.
Beda sekali jika dibandingkan dengan apa yang pernah terjadi di sejumlah negara
penghasil komoditas manufaktur dan sempat terpukul ketika
kisi mendera sejumlah negara tujuan ekspor.
Kita tentu belum lupa terhadap krisis akibat subprime mortgage kan,
yang sempat membikin rontok
sejumlah perusahaan di China, Korsel, Jepang, dan Taiwan,
karena mereka sudah begitu tergantung pada pasar di negara maju, seperti AS dan Eropa.
penghasil komoditas manufaktur dan sempat terpukul ketika
kisi mendera sejumlah negara tujuan ekspor.
Kita tentu belum lupa terhadap krisis akibat subprime mortgage kan,
yang sempat membikin rontok
sejumlah perusahaan di China, Korsel, Jepang, dan Taiwan,
karena mereka sudah begitu tergantung pada pasar di negara maju, seperti AS dan Eropa.
Bagi perusahaan yang ingin atau malah sudah beranjak menjadi korporasi besar
tapi belum menerapkan strategi jangka panjang ala entrepreneur,
sudah selayaknya untuk mendidik ulang para karyawannya
agar memiliki gaya pemikiran sebagai wirausahawan.
tapi belum menerapkan strategi jangka panjang ala entrepreneur,
sudah selayaknya untuk mendidik ulang para karyawannya
agar memiliki gaya pemikiran sebagai wirausahawan.
Masih cukup waktu untuk memintarkan awak korporasi
guna menghadapi krisis besar yang—mungkin saja terjadi pada 2018,
sesuai dengan siklus tiap dekade yang pernah terjadi: 1998 dan 2008.
Mudah-mudahan pula, krisis besar sepuluh tahunan itu tidak datang lebih cepat menghampiri kita.
guna menghadapi krisis besar yang—mungkin saja terjadi pada 2018,
sesuai dengan siklus tiap dekade yang pernah terjadi: 1998 dan 2008.
Mudah-mudahan pula, krisis besar sepuluh tahunan itu tidak datang lebih cepat menghampiri kita.
Soalnya, kesiapan sejumlah korporasi nasional juga belum dapat dikatakan kuat.
Wongmenghadapi skema pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean saja,
pemerintah maupun korporasi nasional masih terlihat kedodoran.
Biasanya, kita baru sepenuhnya sadar apabila telah menginjak hari-H-nya.
Padahal sejumlah jiran kita sudah terlebih dulu
menyiapkan bangsa masing-masing untuk dapat mengecap kue bisnis MEA itu..
Wongmenghadapi skema pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean saja,
pemerintah maupun korporasi nasional masih terlihat kedodoran.
Biasanya, kita baru sepenuhnya sadar apabila telah menginjak hari-H-nya.
Padahal sejumlah jiran kita sudah terlebih dulu
menyiapkan bangsa masing-masing untuk dapat mengecap kue bisnis MEA itu..
Lagipula, apabila makin banyak awak korporasi yang memiliki pola berfikir ala entrepreneur
, mereka bisa menjadi champion bagi masyarakat di sekitar tempat mereka tinggal,
sehingga pembentukan komunitas yang berwawasan wirausaha pun dapat dipercepat.
Bukankah bangsa yang berhasil adalah apabila semakin banyak anggota masyarakat yang memiliki wawasanentrepreneurship danmempraktikkannya di dunia nyata?
, mereka bisa menjadi champion bagi masyarakat di sekitar tempat mereka tinggal,
sehingga pembentukan komunitas yang berwawasan wirausaha pun dapat dipercepat.
Bukankah bangsa yang berhasil adalah apabila semakin banyak anggota masyarakat yang memiliki wawasanentrepreneurship danmempraktikkannya di dunia nyata?







